Cromia, Imajinasi Liar dalam Warna Tabrak Lari Cristina dan Sebastian Gunawan

0
553

Tak selamanya penggunaan warna tabrak lari menciptakan karya yang tak sedap dipandang mata. Dan tidak selamanya juga warna yang tidak sesuai dengan realita akan terlihat aneh. Misalnya pohon yang berwarna merah atau tanah yang berwarna ungu.

Adalah Henry Matisse, pelukis Perancis era Post Impresionis yang memimpin Fauvisme, pemberontakan atas kelaziman warna. Matisse adalah inspirator bagi Cristina Panarese dan Sebastian Gunawan dalam menghadirkan 88 karya terbarunya dalam koleksi busana Cromia yang dihadirkan beberapa waktu lalu di Ballroom Hotel Mulia, Jakarta.

“Keberanian Matisse untuk menabrakan warna dalam karyanya, serta bentuk dua dimensi yang kuat dan berpola menginsirasi kami untuk mengintepretasikannya dalam deretan busana dalam penuh nuansa,” tutur Sebastian dalam keterangan pers nya.

Cromia sendiri berasal dari kata Croma yang bermakna kemurnian atau intensitas warna. Dalam bahasa Yunani, khroma berarti warna.

Koleksi Cromia bermain dengan memadukan warna-warna komposisi berani. Misalnya warna ungu dan oranye kemerahan, kuning kenari dengan biru muda, hijau pupus dengan oranye ataupun hijau dengan putih. Warna tunggal juga digunakan Cristina dan Sebastian dalam rancangannya. Seperti tosca, nude, biru, merah, dll.

Dari rangkaian busana yang dihadirkan Cristina dan Sebastian kali ini memiliki benang merah yang terdapat pada penggunaan ikat pinggang berukuran besar yang hadir tidak selaras. Dan menariknya, penggunaan sepatu bot menjadi begitu luar biasa saat dipadankan dengan gaun cocktail pendek.*

Foto: Tim Muara Bagdja

 

LEAVE A REPLY