Wuidih! 9 Serbuan Koleksi Desainer LaSalle College Ini Menawan Mata

0
327

Guratan koleksi desainer-desainer muda LaSalle College memang kerap membuka horizon baru. Setidaknya lewat 9 koleksi mereka yang digelar di Jakarta Fashion Week 2019. Siapa saja mereka?
Rashesa Putri Sabrina
Dengan koleksi DELA GOSI, Rashesa coba menghadirkan sosok wanita penuh gaya alias fashionable tapi penuh semangat tradisional yang tinggi. Itu terlihat dari keberaniannya bermain dengan kain tenun khas Sulawesi Selatan dengan paduan denim.

Foto: LaSalle Collage

Ia juga mendesain kimono dan rok dengan menggunakan kain tenun sutera Sengkang. Ada dua motif yang disajikan motif Lagosi dan motif Bombang. Motif Lagosi mengambil bentuk bunga besar, sedangkan motif Bombang punya ciri pada garisnya yang membentuk zigzag – yang punya arti gelombang laut.
Selphie Usagi
Nama aslinya Selviana tapi ia mengambil ‘Selphie Usagi’ sebagai nama label koleksinya. Koleksinya, Euclid, diambil dari Bapak Geometri, mengingat koleksi Selphie bermain-main dengan pola fabrik geometris. Euclid sendiri pernah hidup di Alexandria, Yunani, selama abad keempat.
Foto: LaSalle Collage

Itulah kenapa setiap detail dan siluet sederet rancangan gaun Selphie menyerupai chiton – pakaian klasik orang Yunani, peplos (pakaian wanita Yunani), dan himation (kain melintang yang dipakai dari bahu kiri ke bawah), yang menjadi tren di era Hellenistik Yunani dulu.
Baca juga: Dari Andien hingga Nadine Chandra, Gaun Pengantin Siapa yang Menurutmu Paling Kece?
Bella Fransisca
Dengan menggusung label bellafransisca, Bella menggelar koleksi Sticky Situation yang terinspirasi dari kekuatan kata-kata yang kerap dilupakan orang. Kata-kata yang takut terlupa ini biasanya ditulis di kertas tempel (sticky note), agar teringat.
Foto: LaSalle Collage

Eksistensinya untuk membawa orang-orang menjadi lebih dekat di tengah-tengah situasi yang kacau. Semua kata yang disemat di deretan koleksi ini benar-benar deretan kata dan kalimat yang penting diingat agar tetap ada kesatuan.
Alhasil, deretan koleksi Bella lebih fokus ke pakaian kerja dimana kertas tempel hadir. Skema warna koleksi-koleksinya pun dipilih netral karena merefleksikan tensi perasaan di tengah kondisi kekacauan. Tentu saja warna terang tetap ada untuk mengingatkan hari-hari yang menyenangkan!
 Christi Erning
Dengan label ‘Liem Christi’ desainer satu ini mengedepankan suntikan simplisitas dan kekompleksan elemen menjadi suatu karya desain yang menyuarakan ekspresi pribadi dan inovasi.
Foto: LaSalle Collage

Desainer berusia 20 tahun ini menyajikan tema “Genesis 1:25”, gelaran koleksi yang mengacu pada kelahiran umat manusia di bumi pertamakali. Rangkaian koleksi dengan bahan tak terstruktur mewakili kelahiran seorang anak ke dunia.
Fidelia Inetta Lius
Dengan mengusung label “Filie”, siswi yang memulai masa belajarnya di LaSalle College Jakarta pada 2016 ini lebih tertarik menjatuhkan kreatifitasnya pada desain ready-to-wear.
Foto: LaSalle Collage

Untuk itu dirinya bermain-main dengan Kain Buna, fabrik yang memiliki warna-warni dan keunikan pola. Dan secara langsung dituangkan dalam denim dan kanvas yang sempurna. Ia menyajikannya dalam Final Capsule Collection dengan empat look sebagai bagian dari koleksi Unification.
Ervina Michelle Liem
Sematan labelnya adalah Liem by Ervina Michelle yang mencuat dalam koleksi dari dua kombinasi muse-nya, Mama dan Tegel Kunci Yogyakarta. Desainer muda ini sadar kalau dirinya adalah peranakan dan untuk itu ia menciptakan rancangan desain yang lebih mengalir dipenuhi siluet simpel.
Kesemuanya dituangkan dalam look penuh inspirasi nuansa pedesaan, hingga baju malam nuansa perkotaan yang menawan. Semua desain koleksi menggunakan berbagai varian fabrik, dari jahitan tangan, cetakan print, dan manik-manik.
Maria Nathania Tjuhanda
Desainer kelahiran Jakarta ini punya ciri rancangan yang berani, glamor dan unik. Mungkin itu berkat pengaruh dari berbagai jenis musik yang disukainya selama tumbuh hingga kini.
Meski begitu, hanya ambiens dan jiwa jazz yang berhasil berlabuh di dalam hatinya. Sehingga ia pun terinspirasi melahirkan koleksi mini bertema “Roaring 20s” yang sophisticated. Sentuhan bulu-bulu dan ornamen manik melengkapi dan jadi ciri keglamoran dan mewahnya para perempuan di era 1920-an.
Baca juga: Beda Gaya Gaun Pengantin Meghan dan Kate, Kamu Pilih Mana?
Prasomya Santika
Sosok muda satu ini tak segan-segan untuk belajar dari para seniornya. Tak heran kalau dirinya sempat bekerja dan belajar dari deretan desainer-desainer senior Indonesia. Lumrah jika pada akhirnya kita penasaran dengan ‘ Apa sih kira-kira karya desainnya?’
Dirinya pun langsung menelurkan koleksi minimalis, Populux, di Jakarta Fashion Week 2019. Populux dirancang sebagai bentuk baru kemewahan yang terinspirasi dari eksistensi arsitektur urban dan bentuk seni dari pertengahan era 1950-an. Alhasil, bentuk abstrak dan garis serta proporsi menjadi kunci rancangannya. Semburat elegan pun bertebaran di keseluruhan koleksi.
Putri Mudita
Jadi satu-satunya koleksi bridal and couture yang dihadirkan siswi LaSalle College. Dengan label Putri Mudita Bridal & Couture, karya-karya romantis bergelimang dalam deretan rancangan gaun pesta dan gaun pengantin yang disajikan.
Foto: LaSalle Collage

Itu semua semakin sempurna karena Putri Mudita terinspirasi dewi perang Yunani, Athena, sehingga semua rancangan memiliki siluet tegas dan ringkas. Mereka yang memiliki lekuk tubuh indah pun wajib mengenakan koleksi ini.*
 
Penulis: Orlando

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here