Memahami Beragam Tradisi dibalik Angpau Pernikahan

0
5785
angpau pernikahan
Ilustrasi

SELAIN memberikan doa restu, sudah menjadi hal lumrah jika tamu undangan akan memberikan hadiah kepada kedua mempelai yang tengah berbahagia. Hadiah yang dimaksud bisa berupa barang atau angpau berisi uang.
Bagi kedua mempelai hadiah ini tentu juga menjadi hal yang paling dinantikan ya. Meskipun begitu, jangan keburu senang dulu! Karena meskipun hal ini sudah menjadi tradisi, namun sesungguhnya inti dari pesta pernikahan sendiri tentu bukanlah mengambil keuntungan materi semata bukan?

1. Lantas siapakah yang berhak menerima angpau tersebut?

Ilustrasi / Istimewa


Urusan seputar hasil pemberian tamu undangan ini bisa jadi hal sensitif. Bahkan, bila tidak didiskusikan sejak awal soal siapakah orang yang pantas menerima angpau tersebut, dikhwatirkan akan menimbulkan percecokan atau hal lain yang tak diinginkan.
Menurut Nawal Rizqa Dona, Wedding and Talent Organizer dari Bella Donna the Organizer, biasanya hak angpau pernikahan akan diserahkan kepada siapa pihak yang telah membiayai pesta. Jika dikaitkan dengan adat yang berlaku, untuk pernikahan di Jawa atau Sunda misalnya, pesta biasanya diselenggarakan oleh pihak keluarga wanita. Sehingga hasil angpau pernikahan menjadi hak keluarga wanita selaku pemegang hajat.
Lain halnya dengan yang diterapkan oleh adat Betawi. Uang angpau akan diberikan sesuai dengan asal tamu undangan. Artinya, bila angpau diberikan oleh tamu yang diundang kedua mempelai, maka itu menjadi hak kedua mempelai. Begitu pula jika angpau berasal dari tamu undangan pihak orangtua, maka itu sepenuhnya menjadi hak orangtua. Jadi, jangan heran bila kamu melihat kotak angpau di pesta pernikahan yang dibedakan antara untuk mempelai dan untuk orangtua.
Namun, menurut wanita yang akrab disapa Dona ini, tradisi di atas bukanlah aturan pasti. Apalagi jika melihat tradisi pesta pernikahan saat ini yang terkadang tidak sepenuhnya dibiayai oleh orangtua atau pihak keluarga. Jadi, itu semua tergantung pada kesepakatan oleh kedua belah pihak keluarga di awal.

2. Tradisi Balas Membalas Angpau Pernikahan

Ilustrasi Tamu Undangan Pernikahan – freepik


Mungkin kamu pernah mendengar kebiasaan menuliskan nama pengirim pada amplop pernikahan. Di pesta pernikahan tertentu, bahkan ada pula aturan yang menomori amplop sebelum dimasukan ke dalam kotak angpau. Namun, jangan keburu berprasangka buruk dahulu ya!
Biasanya hal tersebut dilakukan agar sang pemangku hajat mengetahui siapakah orang yang memberi angpau tersebut. Bukan sekadar asal tahu siapa pemilik angpau tersebut saja. Sebab ini juga berkaitan dengan tradisi balas-membalas angpau pernikahan. Kelak, saat sang pemilik angpau tersebut menggelar pesta pernikahan, maka tuan rumah (pemangku hajat) bisa kembali memberikan angpau dengan nominal yang minimal sama.

3. Memberi Hadiah Berupa Barang

Ilustrasi – Freepik


Tradisi memberikan hadiah kepada calon mempelai ini ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Bahkan kalau di negara Barat muncul istilah wedding registry atau bridal registry. Kedua mempelai akan mendata apa saja kebutuhan barang yang mereka inginkan lalu mencantumkan di wedding website atau kartu undangan. Nantinya, tamu undangan hanya perlu memberikan hadiah sesuai dengan wedding resgistry yang dicantumkan.
Selain memudahkan tamu undangan memberikan barang yang memang sesuai kebutuhan pengantin, cara ini juga berfungsi menghindari adanya tamu yang membawa barang yang sama. Namun hal tersebut memang tidak lazim ya dilakukan di Indonesia yang memegang adat ketimuran. Bila diterapkan, bisa jadi pengantin malah dianggap tidak sopan.

4. Berapa Jumlah Isi Angpau Pernikahan?

Ilustrasi via somethingturquoise.com


Jika dibandingkan memberi hadiah berupa barang, memberikan amplop berisi uang memang terkesan lebih praktis. Namun seringkali tamu undangan kebingungan menentukan jumlah uang yang pantas untuk diberikan. Selain berdasarkan kemampuan finansial tamu undangan ternyata ada beberapa kriteria yang secara tak langsung ditetapkan tamu saat menentukan isi angpao pernikahan.
Misalnya, berdasarkan kedekatan hubungan dengan kedua mempelai. Jadi, semakin dekat hubungan kedua mempelai dengan tamu undangan, maka semakin besar pula nominal uang yang diberikan. Contoh lain, ada pula tamu undangan yang menentukan jumlah uang berdasarkan tempat berlangsungnya pesta. Semakin mewah venue pernikahan dan tempat berlangsungnya pesta, maka semakin besar pula nominal uang yang akan diberikan.
Meskipun begitu, ada baiknya angpau undangan tidak dijadikan alasan saat menghadiri pesta pernikahan. Jangan karena kamu tidak memiliki uang, maka rencana untuk menghadiri pesta pernikahan teman dekat pun dibatalkan. Sebab sejatinya inti dari kehadiran dan doa restu tamu undangan justru yang lebih dibutuhkan.(*)
Baca Artikel Ini : Hindari Kebiasan Buruk Mengelola Keuangan Agar Pernikahan Langgeng
INTAN WIDIASTUTI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here