Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia
Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan
Inspirasi Pernikahan

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia
Pernikahan Indonesia

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara
Pernikahan Mancanegara

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding
Inspirasi Wedding

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan
Ide Pernikahan

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding
Ide Wedding

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia
Inspirasi Wedding Indonesia

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding
Vendor Wedding

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan
Artikel Pernikahan
filter_list
my_location
search

Romansa Barat dan Timur Adrian Gan dalam ConQuerence


Khasanah kekayaan negeri timur dan barat dilebur apik oleh Adrian Gan dalam pagelaran busana tunggalnya yang dilakukan beberapa waktu lalu. Masih dengan ciri khas Adrian, yakni detail melimpah, 40 busana cheongsam yang ditampilkan malam itu semakin menunjukkan sisi kekuatan karya desainer lulusan Susan Budihardjo ini.

Adrian mengangkat tema ‘ConQuerence’. Merupakan penggabungan dari 3 kata, congrunce,Que dan romance. Busana era Dinasti Qing, adalah inspirasi Adrian merepresentasikan negeri timur. Sementara era Regency dari Eropa, adalah refensi Adrian untuk mengeksplorasi negeri barat. “Kedua era ini tentu saja berbeda. Namun kesamaan yang paling mendasar terletak pada kemewahan cara berbusana,” demikian penuturan Adrian saat konferensi pers sebelum show dimulai.

Satu hal yang ditemukan tim thewedding.id dalam riset mengenai busana era Regency adalah bentuk kerah tinggi, yang menurut sejarah dipopulerkan oleh Raja George ke-4, raja era itu. Sedangkan era Dinasti Qing identik dengan siluet cheongsam yang longgar.

“Biasanya dalam membuat koleksi cheongsam, saya selalu mengacu pada pakem cheongsam tradisional, maka kali ini saya berusaha mendefinisikannya ke dalam pakem yang lebih saru,” terang Adrian Gan.Melalui ConQuerence, ia berusaha menyuguhkan cheongsam dalam rupa siluet, warna, motif, dan pengolahan material, yang di luar pakem yang biasa dia geluti.

Adrian membagi shownya dalam  4 babak yang dibuka dengan deretan busana bernuansa ivory. Kesan feminin dan romantis langsung meyeruak saat deretan busana babak pertama tampil. Pun perpaduan dua era yang ditumpahkan Adrian juga dalam motif barok lembut, yang merupakan ke-khas-an era Regency serta motif insect dan burung yang merupakan motif khas era Dinasty Qing. Adrian juga bermain  dengan motif tradisional Chinese yang lebih muda dan ceria, seperti pengaplikasian Chinese paper cut, Chinese shadow play, hingga teknik patchwork.

Detail berupa sulaman, sejauh pengamatan tim thewedding.id saat menghadiri show ini, begitu mendominasi baik itu untuk karya gaun pendek, gaun malam serta busana pengantin. 

Busana pengantin ditampilkan Adrian sebagai penutup koleksi terakhir. Begitu istimewa. Karena Adrian menggunakan kain vintage yang berusia seratus tahun lebih. (*)



Penulis: Theresia Triomegani
Foto: Davy Linggar