Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia
Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan
Inspirasi Pernikahan

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia
Pernikahan Indonesia

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara
Pernikahan Mancanegara

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding
Inspirasi Wedding

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan
Ide Pernikahan

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding
Ide Wedding

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia
Inspirasi Wedding Indonesia

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding
Vendor Wedding

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan
Artikel Pernikahan
filter_list
my_location
search

Kok Dia Berubah Setelah Menikah? Ini 4 Mitos Salah Tentang Pernikahan (Untuk Para Suami)


Sebelum menikah kok semuanya terasa asyik. Si dia seru dan kamu pun seru. Tapi setelah menikah kok berubah? Ini dia 4 mitos salah tentang pernikahan buat kamu sang calon suami.

Suatu ketika setelah pernikahan berjalan sekitar belasan tahun, Denny dan Sarah nyatanya kerap berselisih dan meneriaki satu sama lain.

Cirinya?

“Kita beneran bakal masalahin ini lagi?” teriak Denny ke Sarah.

Apa ini masalah Denny selingkuh? Atau Sarah yang selingkuh? Hmmm… Ternyata tidak. Nyatanya semua bermula dari sikap Sarah yang jauh berubah setelah mereka menikah.

Awalnya saat kencan dulu, Denny tertarik pada Sarah karena sikapnya yang asyik-asyik aja. Denny adalah sosok yang suka becanda, sedangkan Sarah suka menimpalinya dengan tawanya yang ngakak banget. itu yang bikin Denny jatuh hati dan ingin menikahinya.

Belakangan ini, setelah belasan tahun pernikahan, suara tawa Sarah sudah bagaikan kopi kenangan, eh, kenangan belaka. Tak ada lagi rasa keceriaan dalam pernikahan mereka. Ya, suara tawa Sarah sudah tak lagi terdengar. Sarah berubah.

Selidik-punya-selidik ini nyatanya berhubungan dengan beberapa pemikiran atau mitos yang ditanam para suami dalam kepala mereka.

Apa saja itu?

 

1.  Tugas istri adalah menyenangkan hati para suami

Semua kisah dongeng dan film pastinya berkisah tentang bagaimana para pangeran memenangkan hati para putri. Dengan menyenangkan mereka, berarti para putri juga ‘diharapkan’ jadi sumber kebahagiaan para pangeran juga.

Ini yang sering tak disadari para pangeran alias para suami.

Para suami yang kerap merasakan kekosongan dalam hati mereka, lupa dan tak menyadari kalau ‘kebolongan’ atau rasa hampa mereka hanya bisa diisi dengan hubungan yang intim dengan Sang Pencipta. Ya, karena para suami adalah imam.

Itu yang tak bisa diisi oleh para istri atau pasangan mereka.

Jadi berdoalah agar calon suami atau suami kamu menyadari akan hal ini.

 

2.  Saya berharap istri tetap seperti wanita yang saya nikahi dulunya

Jika suami kamu ingin sekali kamu tetap seperti wanita yang dinikahinya pertama kali, berarti ia tak ngeh kalau manusia bisa mengalami perubahan secara karakter.

Perubahan ini terjadi karena karakter istri menyesuaikan diri dengan kondisi yang benar-benar baru selama pernikahan.

Pada dasarnya jika situasi karakter tersebut memang membuat hati sang suami nyaman sehingga bisa menciptakan suasana yang menyenangkan – kenapa tidak?

Saat kamu belajar menjadi sosok yang dinikmati atau disenangi suami untuk menghabiskan waktu bersama, kamu pasti menemukan banyak kesempatan untuk menyegarkan tak hanya dirinya tapi juga menyegarkan hubungan kamu berdua lagi!

 

Baca juga: Aduh! Kalau Sudah Cinta, Kok Masih Suka Bohong?

 

3.  Bercinta adalah kewajiban seorang suami untuk memenuhi kebutuhan emosional istri

Benarkah?

Kebanyakan wanita yang sudah berstatus istri justru curhat betapa suami-suami mereka cenderung bingung bagaimana memenuhi kebutuhan emosional para istri untuk berintim-ria atau hanya untuk memuaskan birahi saja!

Pada akhirnya banyak istri yang mencari cara menghubungkan diri dengan suami mereka melalui obrolan dan gestur.

Padahal, sebenarnya nih, makan malam yang (diracik para istri) dilahap para suami itu sudah memuaskan rasa senang di hati para istri, loh…

Jadi?

Wahai, para istri, yuk tetap berpikiran positif: para suami diberikan libido bercinta dengan pasangan mereka adalah libido yang dari Sang Pencipta. Jika pada akhirnya para istri ‘berhasil’ membawa para suami mereka bercinta, para istri tak hanya memenuhi kebutuhan libido suami saja tapi itu juga menyehatkan jiwa para suami juga.

 

4.    Punya banyak uang berarti stres berkurang

Banyak pasangan setuju kalau kurangnya finansial bisa membuat efek negatif ke pernikahan mereka. Alhasil, banyak suami dan istri juga sama-sama bekerja demi memenuhi kebutuhan mereka.

Efeknya: banyak yang lupa untuk menghabiskan waktu berdua, punya waktu berkualitas berdua. Itu fakta.

Tapi kita sama-sama tahu. Di luar sana, banyak uang bukanlah jawaban agar pernikahan bahagia. Pernikahan para selebriti kaya-raya, misalnya. Atau keluarga kenalan terdekat yang semua kebutuhannya tercukupi: bisa cerai.

Kuncinya terletak pada … rasa cukup. Untuk para istri: merasa cukuplah ditambah dengan rasa bersyukur.

Tanpa sadar, jika banyak tuntutan dari istri untuk punya ini dan itu, bisa memicu suami bekerja lebih keras. Taruhannya: waktu berdua berkualitas yang hilang, karena suami kerap lembur dan sampai di rumah sudah lelah.

 

Baca juga: Yakin Mau Menikah dengan Si Dia? Cek deh 5 Tipe Orang yang Nggak Banget Jadi Pasangan

 

Summary

Istri lah para ‘pelatih’

‘Pelatih’ dalam hal ini adalah ‘penolong’. Istri memang benar-benar penolong bagi para suami agar mereka mengerti betapa kalian menghargai obrolan dan gestur romantis. Demikian Rhonda Stoppe, penulis buku If My Husbands Would Change, I’d Be Happy: And Other Myths Wives Believe.

 

 

Penulis: aldo thewedding.id

Foto: settler