Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan Indonesia
Inspirasi Pernikahan Indonesia

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan

Inspirasi Pernikahan
Inspirasi Pernikahan

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia

Pernikahan Indonesia
Pernikahan Indonesia

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara

Pernikahan Mancanegara
Pernikahan Mancanegara

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding

Inspirasi Wedding
Inspirasi Wedding

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan

Ide Pernikahan
Ide Pernikahan

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding

Ide Wedding
Ide Wedding

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia

Inspirasi Wedding Indonesia
Inspirasi Wedding Indonesia

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding

Vendor Wedding
Vendor Wedding

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan

Artikel Pernikahan
Artikel Pernikahan
search

Cari Tahu Cara Cerdas Mengelola Keuangan Rumah Tangga


PASANGAN yang baru menikah biasanya akan mengalami kesulitan saat mengatur keuangan rumah tangga. Ibaratnya, saat hari gajian bisa bersenang-senang, namun saldo defisit tiap akhir bulan. Banyak faktor sebagai penyebabnya, salah satunya adalah manajemen keuangan keluarga yang belum tertata dengan baik
Padahal, kamu tak perlu menjadi seorang ahli keuangan dulu loh untuk bisa mengatur keuangan keluarga. Cukup praktikan tips dari ahli keuangan Aidil Akbar yang kami lansir dari majalah Bella Donna The Wedding berikut ini dan komitmen untuk menjalankannya.

Buat Rekening Bersama

Apakah kamu dan pasangan sama-sama sedang bekerja dan memiliki penghasilan rutin? Jika ya, berarti kalian tergolong keluarga yang memiliki penghasilan ganda. Menurut Aidil, keluarga dengan tipe penghasilan ini sebaiknya memiliki rekening bersama. Cara ini sangat memudahkan kamu dalam mengatur aliran pemasukan dan pengeluaran atau cash flow.
Rekening bersama tersebut bisa digunakan untuk membayar kebutuhan terkait dengan pengeluaran rumah tangga seperti kebutuhan pokok, listrik, dsb. Meskipun begitu sebaiknya masing-masing juga memiliki rekening pribadi untuk membayar kebutuhan pribadi. Misalnya istri masih ingin membeli baju, sepatu, dll. Pastikan rekening pribadi dan rekening bersama dikelola secara transparan agar tak memicu percecokan.
Bila sudah memiliki rekening bersama, maka selanjutnya kamu bisa memonitor biaya pemasukan dan pengeluaran keuangan keluarga. Secara garis besar pengeluaran keuangan keluarga dikelompokkan menjadi tiga pos utama, yaitu biaya kehidupan sehari-hari, biaya membayar hutang, dan menabung dalam bentuk asuransi atau investasi. Kami akan ulas satu persatu untuk mengetahui rinciannya.

Biaya Hidup

couple resting

Ilustrasi – freepik.com


Sebesar apapun pendapatan yang dimiliki semua akan percuma jika biaya hidup tidak terkelola dengan bijak. Aidil pun memaparkan presentasi biaya hidup ini bisa dialokasikan sebesar 30-40% dari total penghasilan tiap bulan.
Berapa jumlah biaya hidup yang dikeluarkan tiap keluarga tentu bisa berbeda. Tergantung dari pekerjaan dan gaya hidup keluarga tersebut. Namun Paling tidak ada tiga kebutuhan rumah tangga utama yang perlu dialokasikan. Biaya rumah tangga, biaya pengembangan, dan biaya sosialisasi.
Biaya operasional merupakan biaya yang benar-benar harus dikeluarkan tiap bulan tanpa ditunda antara lain biaya listrik, biaya sekolah, transport, dan biaya kebutuhan bahan makanan selama sebulan.
Biaya pengembangan adalah biaya meningkatkan kemampuan/kompetensi dan karir anggota keluarga misalnya biaya kursus anak-anak, biaya untuk kuliah lanjutan. Biaya ini masih bisa ditunda atau dikurangi apabila keuangan terbatas.
Biaya sosialisasi antara lain ada biaya sumbangan teman menikah, arisan, dan seterusnya. Biaya ini masih bisa disesuakan dengan kemampuan keuangan keluarga.

Cicilan hutang

Punya cicilan hutan rasanya bukan lagi hal tabu untuk saat ini. Sebab tidak tidak semua keluarga memiliki cukup uang untuk mencapai tujuannya. Misalnya untuk membeli mobil, rumah, atau motor dengan cara kredit. Meskipun begitu perhatikan pula kalau cicilan hutang yang kita punya benar-benar sesuai kemampuan keuangan keluarga.
Menurut Aidil yang juga Chairman International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) ini rasio maksimum hutang adalah 30% dari penghasilan keluarga dalam setahun. Lebih dari itu akan sangat mengganggu keuangan keluargamu. Sebagai contoh, bila penghasilan kita total 120 juta rupiah selama setahun, maka cicilan hutang yang paling masuk akal adalah 36 juta rupiah per tahun atau 3 juta rupiah per bulan.

Menabung, dana darurat dan asuransi

keuangan

Ilustrasi menabung – freepik


Agar bencana defisit anggaran di masa mendatang tidak terjadi, amat penting untuk menjamin kesejahteraan di masa depan dengan jalan menabung. Lantas bagaimana ya rasio tabungan yang ideal? Caranya adalah dengan membandingkan jumlah uang yang ditabung dengan pendapatan.
Tabungan pun memiliki jenis tersendiri, apakah berupa dana darurat dalam bentuk investasi atau asuransi
Dana Darurat. Biaya cadangan atau juga disebut dana darurat diperlukan untuk menutup biaya kebutuhan tak terduga yang bisa saja terjadi pada keluarga, misalnya pemutusan hubungan kerja. Itulan sebabnya, mengapa menyediakan dana darurat setiap bulan itu perlu. Yang perlu diingat dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen jangka pendek yang mudah dicarikan misalnya deposito.
Asuransi. Pos pengeluaran yang bertujuan untuk melindungi keberlangsungan keuangan keluarga di masa depan adalah salah satu instrumennya adalah asuransi. Oleh karena itu perlu disiapkan untuk membayar premi asuransi yang bisa dibayarkan langsung satu tahun atau secara periodik tiap bulan atau setiap triwulan. Kamu bebas memilih jenis asuransi seseuai kebutuhan dan tujuan, apakah itu asuransi pendidikan, kesehatan, atau jiwa. Menurut Aidil tidak ada aturan resmi untuk besaran asuransi paling tidak gunakan 10-15% asuransi dari total penghasilan. (*)