Daniel Wibowo, Perlunya Energi Positif Saat Menjadi MC

0
277
MC, penyiar
Daniel Wibowo saat menjadi MC sebuah acara pernikahan | Foto: Instagram DanielWibowo

Radio Sonora, Jumat Malam. Suara bariton empuk milik sang penyiar, Daniel Wibowo terdengar menyapa pendengarnya. Memberi salam, membuka sesi tentang lagu-lagu nostalgia. Menghadirkan memori yang seolah membawa kembali pendengar ke puluhan tahun lewat. Saat cerita cinta mereka  mungkin teriring indah dalam sebuah tembang milik Bee Gess, The Beatles, maupun Elvis.

Beberapa jam berselang. Daniel sudah tiba di sebuah venue pernikahan.  Stelan hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu menyempurnakan tampilannya. Ia  masih memiliki waktu panjang sebelum memandu pernikahan.

“Buat saya, lebih baik menunggu lama daripada mepet,” Daniel bertutur. Dengan demikian, ia masih punya waktu panjang untuk meyiapkan diri. Pun saat harus memandu acara di luar kota. Pilihan untuk berangkat sehari sebelum acara atau pesawat paling pagi menjadi kebiasaannya.

Semua berawal dari sebuah pengalaman yang terjadi beberapa tahun silam. Kala itu Daniel masih tinggal di Yogyakarta.  Ia harus memandu acara pernikahan di Semarang. Jarak Yogyakarta ke Semarang membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan mobil. Acara mulai pukul 5 sore. Dari Yogya, Daniel berangkat pukul  dua belas siang. Dengan asumsi masih ada jeda waktu 2 jam sebelum acara.

Diluar perkiraan, 3 jalan perjalanan normal, molor menjadi hampir 5 jam! Kendala pertama yang ditemui Daniel adalah mogoknya mobil yang ia tumpangi. Tak berapa lama, sang supir menerima kabar duka, mertuanya meninggal. “Ndelalah…jalan yang menuju lokasi ada perbaikan. Macetnya minta ampun,” Daniel bercerita. Penyelenggara acara beberapa kali menghubunginya menanyakan keberadaanya.

Daniel panik, pasrah.  “Tak tahu bagaimana, tiba-tiba ada ojek melintas. Langsung saya stop dan saya menuju acara dengan menggunakan ojek. Untung tidak telat,” Daniel bernostalgia.

Baca juga : Tips Memilih MC Wedding yang Tepat Dari Daniel Wibowo

Daniel dan Impian

penyiar
Salah satu impiannya sejak kecil adalah sebagai penyiar. Foto: Instagam Daniel Wibowo

Menjadi penyiar radio ternyata memang impian pria kelahiran Solo ini sejak  SMP. Tahun 2002, ia bergabung dengan sebuah paduan suara.  Dan, kesempatannya untuk menjadi Master of Ceremony (MC) pun terbuka. Disitu kemampuannya memandu acara serta tampil dipanggung semakin terasah.

Baginya menjadi penyiar dan MC merupakan dua bidang yang saling melengkapi satu sama lain. Meskipun terbiasa tampil solo, namun Daniel tetap menyesuaikan diri kala ia harus bekerja dengan orang lain. “Tapi memang perlu dapat chemistry-nya dulu,” Daniel bertutur.

Seiring berjalannya waktu dan dari beragam pekerjaan MC yang ia tangani, secara alami karakter Daniel terbentuk sendiri. Suaranya yang berat membuat pria lulusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri Universitas Atmadjaya Yogyakarta ini merasa lebih banyak menerima tawaran untuk memandu acara formal, maupun pengisi suara dengan karakter grande.

“Ada juga sih yang mencari saya karena menganggap saya lucu, dapat mencairkan suasana meskipun tidak selucu pelawak. Padahal membuat orang tertawa itu ga mudah loh!” Daniel menambahkan. Lama terjun menjadi penyiar dan MC, yang ia pelajari adalah, bagaimana pun buruknya  mood seorang MC/penyiar, saat ia bertugas ia tidak boleh menunjukkannya.

Memberikan sugesti positif pada diri sendiri sejak awal, itulah yang biasa dilakukan pria hobi kuliner ini. Meyakinkan diri bila acara akan berjalan dengan lancar dan menyenangkan. “Tapi biasanya, kalau sudah di atas panggung dan pegang mike, sejelek apapun mood yang saya alami sebelumnya, langsung berubah,” Daniel menambahkan. Ia banyak belajar dari MC senior untuk hal yang satu ini. Tak terkecuali dari Becky Tumewu, MC favoritnya.

Daniel hijrah ke Jakarta dari Yogya, pada tahun 2016. Tekadnya hanya satu, menjadi MC wedding kelas papan atas. Tentu bukan perkara mudah. Untuk itu, selain semakin mengasah kemampuan, ia pun semakin memperluas jejaring koneksi.

“Semoga saya bisa menjadi the next Dado Parus,” Daniel terbahak.*

Teks: Theresia Triomegani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here